Centre for Middle Eastern Studies
Universitas Muhammadiyah Malang
Centre for Middle Eastern Studies
Universitas Muhammadiyah Malang

Di Jerman, Kita Bisa Dibayar untuk Gunakan Listrik

Author : Administrator | Sabtu, 14 Mei 2016 07:30 WIB
 

Jerman memiliki energi listrik berlimpah yang berasal dari sumber-sumber terbarukan, seperti angin, surya, air dan biomassa.

Di Jerman, Kita Bisa Dibayar untuk Gunakan Listrik
Ilustrasi. (burubaru.com)


Jerman memukul tonggak sejarah baru dalam hal energi terbarukan. Mereka berhasil menghasilkan begitu banyak listrik pada satu titik sehingga pelanggan pada dasarnya dibayar untuk menyalakan lampu atau mengisi ponsel mereka.

Quartz melaporkan bahwa pada Minggu (8/5/2016), sekitar 87 persen dari daya yang digunakan di Jerman itu berasal dari angin, matahari, air, dan pembangkit listrik biomassa.

Pada 2015, rata-ratanya ‘hanya’ 33 persen. Ada begitu banyak listrik yang diproduksi bahwa biaya listrik turun menjadi - AS$149 per megawatt jam, menurut Independent.

Penggunaan tertinggi dari energi terbarukan terjadi pada hari yang sangat cerah dan berangin dan penggunaan energi yang relatif rendah pada hari Minggu pagi.

Pembangkit listrik tenaga gas ditutup selama lonjakan energi terbarukan Minggu, tetapi pembangkit nuklir dan batubara terus beroperasi.

Dalam kondisi ini, akan lebih murah bagi mereka untuk terus menghasilkan listrik daripada untuk berhenti selama beberapa jam, kemudian restart. Kondisi yang juga membuat warga Jerman ‘dipaksa’ menggunakan listrik, atau pemerintah harus mengeluarkan uang lebih besar sebagai biaya ‘restart’ pembangkit listrik.

Ini menunjukkan energi terbarukan dapat menguatkan ekonomi secara besar-besaran, ThinkProgressmelaporkan. Jerman-ekonomi terbesar keempat di dunia-adalah pemimpin dalam energi terbarukan meski hanya mendapatkan sinar matahari tahunan sebanyak Alaska.

Sebagai perbandingan, AS hanya menerima sekitar 13 persen dari energi dari sumber terbarukan setiap tahun. Jerman bertujuan untuk didukung oleh energi terbarukan 100 persen pada tahun 2050.

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image